Akhir-akhir ini hatiku resah, gelisah… aku tahu jawabannya,
tapi aku tak mampu mengatasinya. Makin kupikir makin pusing!
Tak kupikiri, godaan itu selalu berusaha mengganggu pikiranku. So…
Awalnya, kuanggap biasa aja…
Awalnya, kupikir itu "biasalah, duri-duri kecil dalam perjalanan hidupku"…
Awalnya, kuanggap hanya sebuah perhatian biasa seorang saudara…
Awalnya, tapi kok lain ya?...
" Ass. Bu ira, ikut wisuda juga periode ini kan? Kmrn or bsk? Bls"
Sebuah SMS masuk ke telepon genggamku, itulah isinya, dari seorang ikhwan!. Aku balas dengan sejujurnya. Aku tak tau maksud hati akhi yang mengsmsku itu dan aku pun nggak mau menerka-nerkanya. Prasangkaku baik: ternyata ada juga ya seseorang (bahkan mungkin banyak) yang memperhatikanku, menaruh simpati atau kasihan atau apalah…aku tak tahu, tapi yang jelas aku jadi mulai bersikap "ternyata aku tak sendiri, aku punya saudara, yang jika aku sedih mereka juga sedih, jika aku bahagia mereka jika bahagia. Oke deh, aku harus tetap tampak bahagia agar saudara ku yang lain juga bahagia, walaupun sebenarnya banyak banget masalah yang harus kuselesaikan, banyak banget beban berat yang harus dihadapi!". "Tersenyumlah ukhti, senangkanlah saudaramu" nasehat hatiku.
Jazakallah akhi…Jazakillah ukhti...Syukron banget ya atas perhatiannya, tapi afwan, maafkan aku jika tidak sesempurna yang kalian bayangkan. Inilah diriku dengan segala keterbatasan yang ada padaku…
"Ass. Bu ira, afwan ya, ane baru tau klw bu ira dah milad ke-24 tgl 26 feb yang lalu. Moga umurnya dapat digunakan dengan amal yang baik.wass"
Titatitut..titattitut…1 SMS masuk ke hapeku, kulirik jam pukul 23.05 wib. Kubaca isi SMS itu, dari seorang akhi, orang yang sama!. Siapa yang tak senang jika diucapi selamat pada hari ultahnya, walau tanpa kado dan sudah lewat beberapa hari? Begitu juga denganku, tapi yang membuatku heran, hari sudah terlalu larut malam gitu lho..selain itu juga udah lewat 2 bulan yang lalu!. "Dari mana akhi itu tahu tanggal lahirku ya"bertanya dalam hatiku. Eh.. ternyata dari….balasnya. Ayo tebak, apa coba maksudnya???...
Awalnya, kuanggap biasa aja…
Awalnya, kupikir itu "biasalah, kerikil-kerikil kecil dalam perjalanan hidupku"…
Awalnya, kuanggap hanya sebatas menaruh perhatian aja…(entah jugalah ya!)
Awalnya….., tapi kok lain ya?...lain dihatiku!
"Ah, ini cuma perasaanmu aja, ge-er yaaa?!" begitulah kutenangkan suara hatiku yang dari tadi ribut bertengkar menentukan pendapat mana yang paling benar!
Oh Robb…beritahu hamba apa makna dari semua ini?…
Apa aku ikuti aja ya tawaran guru ngajiku untuk secepatnya membuat proposal nikah? (guru ngajiku memang gak tahu tentang masalah ini, beliau telah lama menyuruhku untuk mempersiapkan proposal sakral itu karena dianggap sudah waktunya).
"ku ikuti aja saran guru ngajiku itu gak ya?" Ragu ku lagi.
" Pilihan yang lebih aman agar aku bisa menjaga hati"Tegas hatiku.
" tak ada biaya? Akad aja dulu, kan bisa! Terserah ikhwannya siapa, yang penting dia sholeh, muslih dan aktivis dakwah tarbiyah"bujuk hatiku lagi.
"TIDAK!"kata otak ku. Aku harus tamat kuliah dulu, kerja dulu, tunjukan pada ortu dan saudara-saudara kalau aku bertanggungjawab, aku harus berhasil walau apapun yang terjadi. Aku harus bisa jadi panutan baik untuk keluarga besarku. Kecuali kalau ikhwan itu udah mapan secara ekonomi dan punya pekerjaan yang jelas. Karena aku tak mau menyusahkan ortu untuk kesekian kalinya" begitulah alasanku ketika ditanya mengapa belum buat juga proposal.
Sebenarnya bisa aja aku terima tawaran itu, toh kedua ortu ku sudah sangat percaya pada ku, sebagaimana mereka mempercayakan aku untuk kost padahal kampungku gak terlalu jauh, gak lebih dari dua jam perjalanan angkot!. Mereka percaya padaku, karena dari dulu mereka melihat aku mandiri, apalagi setelah aku berubah total menjadi seorang akhwat. Makin tampak lebih berbakti pada keduanya!.
Sebenarnya bisa aja kedua ortuku merestui, jika kujelaskan keinginanku untuk menikah. Kakakku yang terakhir kali menikah 8 tahun yang lalu, umurku sudah mencukupi, adik-adikku sudah pada besar (rata-rata kami berjarak 2 tahun), mungkin bentar lagi mereka akan melangkahiku!. TAPI dimana baktiku??...
Mamak udah bekerja keras banting tulang membiayai kuliahku seorang diri, tak kenal mana siang mana malam, hari-harinya hanya bekerja dan bekerja untuk mewujudkan harapan dan cita-cita anak-anaknya yang terlalu tinggi, walau seorang diri, walau harus tertatih-tatih, walau keadaan gimana susahnya! Sedang bapakku, bapak yang gak bertanggungjawab! Gak peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Aku ingat sekali, sepeser uang pun gak pernah diberinya padaku dan gak pernah kudengar kata-kata" ini uang jajanmu nak!...". Selama aku kost, bapak gak pernah bertanya bagaimana kabarku, bahkan apakah makan atau tidak anaknya disini, diapun mungkin gak peduli! Tapi sudahlah…..
Aku seorang akhwat harus bisa memaafkan kelalaian bapak dan membalasnya dengan kebaikan yang berlipat, mudah-mudahan suatu hari bapak menyadari kesalahannya.
Untuk mamak, aku tak tega membiarkannya begitu saja tanpa membalas jerih payahnya, paling nggak Ia melihat aku berhasil dulu!
Oh Robb…berilah hamba solusi yang terbaik……..
"Ku ikuti aja saran guru ngajiku tu gak ya" Ragu itu datang lagi.
"pilihan yang paling aman agar aku bisa menjaga hati" tegas hatiku, "tidak ada biaya? Akad aja dulu, kan bisa? Terserah ikhwannya siapa, yang penting sholeh, muslih dan aktivis dakwah tarbiyah. Setelah menikah kan masih bisa bekerja dan berbakti pada ortu, Skripsi belum kelar bukanlah masalah yang besar khan?.....Bujuk hatiku lagi
Ya Robb, akhir-akhir ini hatiku resah, gelisah…
Aku tahu penyebabnya, tapi…
Ya Tuhanku.. berilah hamba kekuatan untuk mengatasinya. Berilah hamba pilihan yang terbaik. Agar godaan itu tidak datang lagi, agar hati ini tidak terkotori, agar hati ortu tidak tersakiti, agar RidhoMu kugapai, dan agar surgaMu ku raih….